Mengenal Upacara Peusijuk, Adat Istiadat Masyarakat Aceh

Mengenal Upacara Peusijuk, Adat Istiadat Masyarakat Aceh

Indonesia merupakan negara kepulauan yang membentang dan tersebar dari Sabang sampai Merauke dan tentu saja memiliki berbagai budaya dari masing-masing daerahnya, seperti misalnya upacara adat.

Pada umumnya, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki beragam upacara adat dengan kepercayaan dan karakteristik masing-masing yang menggambarkan daerahnya.

Sampai saat di era modern seperti ini pun, beberapa daerah di Indonesia masih kental dengan tradisi yang erat menjadi ciri khas daerahnya. Salah satunya adalah Upacara Adat Peusijuek di Aceh yang sampai saat ini masih dipertahankan. Upacara Peusijuk ini dipraktikan dalam beberapa aspek kegiatan bermasyarakat, misalnya terhadap pengantin baru, orang yang akan menunaikan ibadah haji atau umrah, bahkan dapat dilakukan juga untuk orang yang baru kena musibah. Prosesi adat ini juga sering dilakukan saat orang baru membuka usaha, memiliki rumah atau kendaraan baru, bahkan sampai untuk menyambut tamu juga biasanya adat ini dilakukan.

 

Mengenal Upacara Peusijuk, Adat Istiadat Masyarakat Aceh

Selain dari itu, Peusijuk juga merupakan salah satu adat yang digunakan untuk mendamaikan pertikaian kecil yang terjadi di tengah masyarakat di Aceh. Karena pada dasarnya peusijuk berarti mendinginkan yang berasala dari kata sijue’ yang artinya adalah dingin. Biasanya di negeri-negeri daerah tropis tertentu kata sejuk atau dingin bisa berarti “kebahagiaan, ketentraman”. Jika seseorang sedang mendapat pengaruh-pengaruh “panas”, maka orang pasti akan mencari pendingin untuk menghilangkan atau menghindari pengaruh-pengaruh panas,

Disinilah adat peusijuk sangat dibutuhkan http://www.geraldhowarth.org/ dan sudah menjadi karakteristik masyarakat Aceh sendiri, Peusijuk biasanya dipimpin oleh tokoh atau tetua adat atau orang dituakan di masyarakat.

Istiadat mengadakan peusijuek telah berlangsung lama dalam masyarakat Aceh dan tak dikenal secara pasti kapan mula adanya dan darimana asalnya. Ada yang mengatakan bahwa peusijuek sudah ada dalam masyarakat sebelum Islam datang ke Aceh.

Jadi sudah ada adat istiadat hal yang demikian dikala dampak agama Hindu masuk ke Aceh, atau sebelumnya lagi dikala masyarakat masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Semisal ini bisa dimengerti mengingat peusijuek sebagai kebudayaan yang bersifat sakral dan tergolong kebudayaan universal.

Sebagai komponen dari kebudayaan manusia karenanya peusijuek mengalami perubahan dan perkembangan paralel dengan perkembangan hidup manusia. sesudah datangnya Islam, karenanya adat istiadat peusijuek diberikan napas Islam dalam sistem-sistem pengerjaannya dan disesuaikan dengan ajaran Islam. dikala peusijuek diawali dengan membaca Basmalah dan juga membaca doa secara Islam.

Tata cara pelaksanaan peusijuek

Mengenai bagaimana tata cara pelaksanaan upacara peusijuek masih banyak perbedaan antara satu daerah daerah tempat lain di dalam masyarakat Aceh. Ada yang sesudah membaca Basmalah mendahuluinya dengan sipreuek breuh padee atau ada juga yang memakai breuh kunyeit. Dan ada pula yang memulainya dengan teupong tabeu/tawueu, malah ada juga yang memulainya dengan menggunakan bu leukat kuneng.

Jadi dalam perihal urutan pelaksanaan peusijeuk itu dalam prakteknya belum ada keseragaman antar daerah. Adanya ketidakseragaman itu terutama disebabkan orang yang melakukan peusijuek tidak mengetahui bagaimana cara yang sebenarnya.

Upacara Melasti , Upacara  Penyucian Yang Dilakukan Menjelang Nyepi

Upacara Melasti , Upacara Penyucian Yang Dilakukan Menjelang Nyepi

Upacara Melasti – Bali memang dikenal memiliki banyak budaya , mulai dari upacara hingga adat istiadat Bali yang tidak akan ditemukan di tempat lainnya. Adat Istiadat di Bali telah diwariskan dan dilestarikan dari generasi ke generasi. Seiring berkembangnya jaman , tradisi unik di Bali disuguhkan menjadi sebuah atraksi bagi wisatawan yang datang berkunjung.

Pada artikel kali ini kami akan membahas salah satu upacara adat dari Bali yang bernama Upacara Melasti. Buat yang belum tahu , upacara Melasti merupakan salah satu upacara ritual penyambutan Tahun Baru Saka atau Hari Raya Nyepi yang bertujuan untuk menyucikan diri dan membersihkan alam dari energi negatif. Menurut kepercayaan warga setempat , upacara ini mampu membimbing mereka dalam menjaga hubungannya dengan aspek Tri Hita Karana, yang artinya menjalin hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Upacara Melasti

Upacara Melasti , Upacara  Penyucian Yang Dilakukan Menjelang Nyepi

Tahun baru Saka bagi umat Hindu Bali merupakan kesempatan untuk memulai kembali kehidupan dengan hati yang suci. Melalui ritual amati geni pada Hari Raya Nyepi, setiap umat Hindu pada hakikatnya mendapat kesempatan untuk mengevaluasi capaian hidupnya selama satu tahun yang lalu dan menyusun ulang rencana hidup satu tahun mendatang.

Pada 2 atau 4 hari menjelang Nyepi , masyarakat Hindu Bali melakukan ritual pensucian diri dan lingkungannya yang disebut dengan upacara Melasti. Upacara Melasti dapat didefinisikan sebagai nganyudang malaning gumi ngamet tirta amerta, yang berarti menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau dan laut dianggap sebagai asal tirta amerta atau air kehidupan.

Sumber sumber air ini memberikan kehidupan bagi seluruh makhluk hidup, termasuk umat manusia. Maka dari itu , upacara Melasti selalu diadakan di tempat-tempat khusus seperti tepi pantai atau tepi danau.

Upacara Melasti

Dalam upacara ini , masyarakat datang secara berkelompok ke sumber-sumber air seperti danau dan laut. Setiap kelompok atau rombongan berasal dari satu kesatuan wilayah yang sama, semisal dari banjar atau desa yang sama. Rombongan tersebut biasanya akan membawa perangkat-perangkat slot 777 online keramat peribadahan, yaitu arca, pratima, dan pralingga dari pura yang ada di wilayah masing-masing untuk disucikan. Setiap anggota masyarakat juga menyiapkan sesajian sesuai kemampuan masing-masing yang merupakan bagian pelengkap dari upacara Melasti.

Sebelum upacara Melasti dimulai , biasanya panitia akan menyediakan sebuah meja atau panggung yang diposisikan membelakangi laut atau danau. Meja ini digunakan sebagai tempat berbagai perangkat suci peribadahan dari pura beserta beraneka jenis sesajian.

Seluruh anggota rombongan kemudian duduk bersila menghadap ke arah jajaran perangkat ibadah dan sesajian tersebut, sekaligus menghadap ke sumber air suci. Pemuka agama (pemangku) setempat kemudian akan memimpin berjalannya prosesi upacara. Para pemangku berkeliling dan memercikkan air suci kepada seluruh anggota masyarakat yang hadir serta perangkat-perangkat peribadatan dan menebarkan asap dupa sebagai wujud pensucian.

Setelahnya dilakukan ritual persembahyangan (panca sembah) oleh seluruh anggota rombongan. Para pemangku akan memberikan air suci dan bija. Air suci ini akan diminum , sedangkan bija akan dibubuhkan ke dahi setiap umat yang datang. Setelahnya , perangkat-perangkat peribadahan diarak kembali ke pura untuk menjalani beberapa tahapan ritual yang lain.

Upacara Ngaben , Tradisi Masyarakat Hindu Di Bali Dengan Membakar Mayat

Upacara Ngaben , Tradisi Masyarakat Hindu Di Bali Dengan Membakar Mayat

Upacara Ngaben – Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman suku dan budaya. Hal ini yang membuat kita dapat menemukan banyak ritual adat yang unik di berbagai penjuru Nusantara. Biasanya upacara adat ini berupa ucapan syukur, penghormatan kepada leluhur, hingga upacara pemakaman.

Bicara soal upacara pemakaman , ada sebuah tradisi prosesi pemakaman adat yang sudah begitu terkenal dan mengakar kuat dalam keyakinan warga Hindu Bali, yaitu Ngaben. Mereka percaya jika ngaben dapat menyucikan roh anggota keluarga yang sudah meninggal dunia menuju ke tempat peristirahatan terakhir. Nah pada artikel kali ini kami akan membahas secara lengkap mengenai upacara Ngaben tersebut.

Pengertian Upacara Ngaben

Upacara Ngaben , Tradisi Masyarakat Hindu Di Bali Dengan Membakar Mayat

Ngaben berasal dari kata “beya” yang artinya bekal. Ngaben disebut juga palebon yang berasal dari kata “lebu” yang berarti prathiwi atau tanah (debu). Untuk membuat tubuh manusia meninggal dunia menjadi tanah, salah satunya dengan dibakar. Simpelnya , upacara Ngaben adalah prosesi pembakaran mayat atau kremasi bagi penganut Hindu Bali. Ritual pembakaran mayat tersebut ditujukan sebagai simbol untuk menyucikan roh orang yang telah meninggal.

Upacara Ngaben

Uniknya, kita tidak akan menemukan isak tangis dari para keluarga yang ditinggalkan , malah justru upacara ini dilakukan dengan penuh semarak. Sebab mereka menganggap jika tangisan hanya akan membuat kematian seseorang terhambat untuk menuju ke alam baka.

Upacara Ngaben terdiri dari beberapa tahap sebelum masuk ke dalam pokok utamanya yaitu proses pembakaran mayat. Nah berikut ini adalah proses tahapan dari Upacara Ngaben.

Proses Tahapan Upacara Ngaben

Ngulapin

Upacara yang hanya dilakukan jika seseorang meninggal di luar rumahnya , baik itu di rumah sakit atau sebagainya. Dimaksudkan untuk memanggil Sang Atma, upacara ini dapat berbeda-beda di setiap daerah tergantung tradisi setempat.

Nyiramin

Upacara yang biasa dilakukan di dalam rumah. Biasanya ketika proses ini berlangsung akan disertai dengan penambahan simbol-simbol seperti bunga melati di lubang hidung atau daun intaran di alis serta perlengkapan lainnya. Hal ini dimaksudkan agar roh mengalami reinkarnasi, dianugerahi anggota badan yang lengkap.

Ngajum Kajang

Selembar kertas putih akan ditulisi oleh tetua adat yang kemudian akan ditekan sebanyak tiga kali oleh keluarga, dengan maksud agar memantapkan hati keluarga yang ditinggal. Sehingga, roh dapat segera menuju ke tempat seharusnya.

Ngaskara

Upacara yang memiliki makna untuk menyucikan roh yang telah meninggal. Tujuannya yaitu agar roh dapat bersatu dengan Sang Hyang Widhi Wasa dan menjadi pembimbing bagi mereka yang masih di dunia.

Mameras

Upacara yang dilakukan apabila yang meninggal sudah memiliki cucu. Sebab sang cucu lah yang akan menuntun mendiang melalui doa-doa.

Papegatan

Upacara yang bertujuan untuk memutuskan hubungan duniawi dan keluarga agar perjalanan roh tidak terhambat menuju ke alam baka. Artinya pihak keluarga sudah ikhlas melepas kepergia mendiang.

Pakiriman Ngutang

Upacara yang membawa jenazah ke tempat pekuburan setempat dengan menggunakan bade atau menara pengusung jenazah. Biasanya upacara ini akan diiringi dengan suara baleganjur ataupun angklung. Dalam perjalanan , jenazah akan diputar sebanyak 3 kali melawan jarum jam dengan maksud mengembalikan Panca Maha Bhuta ke tempatnya masing-masing.

Ngeseng

Upacara pembakaran jenasah yang telah dibaringkan di tempat yang disediakan disertai sesaji dan banten. Nantinya tulang tulang dari hasil pembakaran akan digilas dan dirangkai dalam buah kelapa gading yang telah dikeluarkan airnya.

Ngayud

Proses menghanyutkan abu di sungai atau laut yang memiliki makna sebagai penghanyut segala kekotoran yang masih tertinggal pada roh mendiang.

Makelud

Upacara yang hanya dilaksanakan 12 hari setelah prosesi pembakaran jenazah. Maksud dari upacara ini adalahmembersihkan dan menyucikan kembali lingkungan keluarga akibat kesedihan yang dialami keluarga setelah ditinggalkan.